kalau menurut kalian?
SEBERKAS CAHAYA TERABAIKAN
by: Bimo Fikri W
“ Aku ingin menjadi pelangi yang selalu hadir setelah badai datang. Aku
ingin menjadi seekor kunang-kunang yang selalu berkerlap-kerlip diantara
kegelapan. Aku ingin menjadi lilin yang menerangi sekitarnya tanpa memperdulikan
dirinya sendiri dan aku ingin menjadi bintang-bintang dilangit yang selalu
menghiasi langit malam meskipun terkadang tertutup awan gelap”
Aku selalu menganggap bahwa diriku tidak
berguna. Diantara mereka, aku hanya bisa terdiam melihat tingkah laku mereka
yang begitu mengesankan. Aku bagaikan sebuah lilin diantara lampu-lampu taman
yang indah dan terang.
Suatu hari aku melihat seorang wanita yang
sangat mempesona. Namun, lagi-lagi aku tersadar bahwa aku hanyalah seorang yang
pendiam dan selalu berada dibalik tembok kehidupan. Aku hanya bermain-main
didalam mimpi yang mungkin tidak akan terwujud nyata.
Alangkah bahagiannya diriku bila
berkesempatan untuk berbincang-bincang dengannya, namun itu semua hanyalah
sekenario khayalan untuk sekedar menghibur hati ini.
Seandainya aku bisa berubah untuk menjadi
seekor harimau buas yang bisa menguasai segalanya. Atau mungkin menjadi seekor
burung merak dengan segala keindahannya menarik perhatian mereka semua agar aku
diakui.
Aku melihat seorang pria dengan segala
keterbatasannya berhasil menarik perhatian mereka semua dengan tingkah laku
konyol yang terlihat mengganggu namun bisa menghibur. Tawa-tawa kecil terdengar
dari mulut mereka yang berada didekatnya.
Aku pun berteman dengannya dan mulai melakukan
hal-hal diatas normal bersama, hingga suatu saat aku bisa berkenalan dengan
wanita yang aku idam-idamkan.
Selly, itulah yang terdengar dari mulutnya
ketika pertama kali ku tanyakan namanya. Nama yang sederhana namun sungguh
mempesona, membuatku sungguh ingin memilikinya. Namun, itu semua hanya
angan-angan saja bagaikan matahari bertemu bulan.
Sekedar itu saja sudah membuatku mabuk
kepayang. Semua dunia ku berubah dari hitam kelabu menjadi warna-warna pelangi
yang menghiasi langit dikala badai berlalu.
Seandainya dia adalah mawar aku tidak
berharap menjadi kumbang yang menawan, menjadi durinya saja sudah cukup bagiku.
Meskipun terkadang dibenci dan diabaikan karena mengganggu keindahan mawar
namun aku bisa melindunginya dari tangan-tangan usil yang mencoba
mangganggunya.
Namun itu semua hanyalah mimpi dimalam hari.
Andai saja kehidupan ini bagaikan mimpi yang bisa dikendalikan dengan pikiran
saja.
Bagaikan suatu semburan pembangkit kehidupan.
Tingkah laku kucing-kucing rumahan membuat ku tersadar bahwa diam saja tidak
akan menghasilkan apa-apa. Kucoba tanyakan ini semua dengan bayang-bayang didalam
sebuah cermin.
Bagaikan melihat sebuah titik terang dalam
diri seorang pecundang. Aku mencoba bangkit dari kepalsuan dan mulai
berekspresi. Bahwa hidup ini untuk kebebasan. Lakukanlah apa yang kalian suka
dan sukailah apa yang kalian lakukan.
Tekat bulat sudah dalam genggaman, tinggal
menunggu tanda-tanda tuhan memberikan lampu hijau. Ini semua bagaikan ilusi,
aku mampu merasakan dia ada disisi, kuhampiri dia dan mencoba menyatakannya.
Ia terlihat senang dan mungkin ia suka
padaku. Tapi apakah mungkin? Kurasa tidak. Setidaknya dia sudah mulai membalas
semua percakapanku. Hingga suatu hari kuungkapkan semua rasa cinta ku
kepadanya. Namun sayang seribu sayang dia tidak membalas rasa cintaku yang
dalam ini.
Mungkin itu terdengar berlebihan namun memang
itu adanya. Aku sudah muak dengan mereka yang senang menggunakan topeng didalam
kehidupannya karena secara tidak langsung mereka bangga dengan dirinya yang lain.
Itu bukan hidup tapi hanyalah seonggok tubuh boneka tali.
akhir dari semua ini merupakan sesuatu yang
tidak aku inginkan, bukan bermaksud sok bijak tapi itulah yang terjadi dan ya
sudahlah tampaknya dia lebih nyaman dengan keadaan yang tidak dibuat-buat ini.
bagaikan menari diatas perih yang mulai mengering, keras dan sedikit berlendir.
Aku ingin sekali bermain drama denganmu.
Engkau cukup berpura-pura mencintaiku sampai suatu saat nanti engkau lupa bahwa
sedang berpura-pura.
Tapi itu semua tidak mungkin terwujud nyata.
Seekor tikus menjalin cinta dengan seekor kucing persia.
Aku berjalan menjauhi cahaya putih yang penuh
kepalsuan tadi hingga sampailah aku disebuah persimpangan dengan banyak orang
lalu lalang di depan perkantoran yang mulai kehilangan rasa merasanya.
Memandang ke arah sunset juga salah satu yang
nikmat dilakukan sambil bersandar di pohon tengah padang rumput. Tiba tiba
telefon berbunyi dan tiada jawaban dari siapapun. hanya ada suara gemericik air
yang mengintai.
Sejujurnya aku risih dengan semuanya dan alangkah
baiknya jika semua ini berhenti tapi tausahlah dipusingkan karena apa yang sudah
berlalu itu adalah sebuah momentum yang harus dilewati tanpa rasa takut sama
sekali. bagaikan pasir dan parasit semua punya kesinambungan dan hubungan yang
erat.
Aku melanjutkan kehidupan mencoba bermain
kembali didunia yang hina dan fana ini. Mecoba melupakan semua tentang selly
dan seluk beluk kehidupannya hingga akhirnya aku sampai disebuah tempat yang
belum pernah kusinggahi selama ini.
Disini semua orang apa adanya. Wajah mereka
tidak dihiasi topeng biadab yang pernah kulihat. Mungkin inilah yang mereka
sebut kehidupan dimana orang-orang melakukan hal yang mereka suka dan mereka
menyukai apa yang mereka lakukan. Persetan dengan semua orang yang tidak suka.
Kita semua mempunyai kehidupannya masing-masing dan memiliki alur cerita dan
ending yang berbeda pula dimana kebahagiaan memiliki arti yang berbeda.
Cinta cinta dan cinta. Sebuah kata yang
sederhana namun mempunyai banyak arti. Aku telah bodoh dipermainkan dengan kata
cinta. Seakan-akan cinta adalah segalanya.
Namun bukanlah kehidupan namanya kalau tidak
memiliki cobaan dan setiap cobaan harus dihadapi agar kita bisa bangkit.
Kesalahan selalu saja menghampiri dan memang kita harus salah untuk
mengungkapkan kebenaran-kebenaran lainnya.
Bagaikan dejavu, selly kembali membawa maaf.
Maaf? Empat kata memang bisa membalas rasa yang berbagai macam adanya yang
pernah membuat hidup ini menjadi lebih dari sekedar bernafas.
Coba saja pecahkan sebuah piring kaca dan
katakan maaf kepadanya, apakah piring tersebut bisa kembali utuh lagi?
Mustahil. Ini semua lebih dari maaf bung.
Ingin sekali rasanya berlari dari kenyataan
mendengar pengulangan kata maaf yang mulai mendoktrin pikiran ini. Kecewa
adalah kata yang cocok untuk menggambarkan semuannya.
Dan aku mulai memikirkan walau hanya sekejap,
perasaan yang tidak bisa hilang dalam semalam tapi bisa rusak dalam hitungan
jam. bisa bisanya semua ini bergerak dalam arus dimensional yang tajam dan tak
terpecahkan, bagaikan sorak-sorak bergembira di pantai yang usang.
Aku kembali menghampirinya dan mencoba menerima
maaf darinya. Aku mencoba mencari arti dari semua kejadian dan ternyata benar
semua ada hikmahnya.
Aku mulai tersadar meskipun sebuah lilin
tidak seterang cahaya lampu, setidaknya sebuah lilin mampu menerangi sekitarnya
dikala listik padam dan sebuah lilin tidak pernah mengeluh, meskipun dirinya
bisa habis terbakar namun ia masih bertahan menyala untuk menerangi.
Aku juga belajar banyak dari kunang-kunang.
Meskipun mereka kecil dan terlihat lemah dimalam hari namun cahayanya mampu
membuat malam gelap menjadi malam yang indah yang mampu menarik hati sepasang
mata.
Dan aku selalu ingin menjadi pelangi. Ia
tetap terlihat indah meskipun ada diantara awan kelabu.
Aku dan selly mungkin belum menjadi kami.
Tapi suatu hari nanti dari bisu yang mendalam akan tercipta keromantisan yang
harmonis.
Ini adalah akhir dari sebuah cerita dimana tarikan
nafas kini lebih berarti, bukan berarti sebelumnya seperti menyetrum dan tidak
masuk akal. kaitannya dengan persoalan yang dihati, tidak adanya tindak lanjut
dari sang maha kuasa atas apa yang sudah menderita dan diderita. mungkin beliau
masih menunggu saat yang tepat untuk mulai menyekat-nyekat siapa saja yang bisa
ada dan tidak ada dalam waktu dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar